.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Sunday, 29 Apr 2018
Pembagian Keuangan Kantor
Hadi Gunawan
Sebelumnya perkenalkan nama saya Hadi, saya sebagai head adm di salah satu perusahaan kontraktor bangunan. Singkat cerita, sistem management pembagian keuangan kantor, di kantor kami terdapat 5 divisi, yang mana masing" divisi pegang peran di bidang
Konsultasi Ekotama
Tuesday, 25 Jul 2017
INTEGRITAS
INTEGRITAS Apakah Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? 1.Ada karyawan yang bertabiat buruk, selalu terlambat masuk kantor, mengantuk (sesekali hingga tertidur) di kantor, malas-malasan pada jam kerja, bahkan menggunakan jam kerja untuk melak
Pengunjung Saat ini: 3
Total Pengunjung: 942472

Saturday, 15 Jul 2017
Awaluddin
Sistem bagi hasli usaha bengkel dengan investor, pengelola, dan montir/mekanik, pemilik lahan

Assalamualaikum , selamat malam pak ekotama

Rencana om saya ingin membagun sebuah bengkel mobil dan dia mempercayakan saya sebagai pengelola bengkel tersebut.
Pertanyaan saya pak :
1. Berapa jumlah persentase bagi hasil untuk investor, pengelola, montir/mekanik, serta pemilik lahan 
2. Bagaimana pembagian gaji montir/mekanik jika lbih dari satu, apa saya harus membuat divisi khusus montir contoh : kepala montir, ada juga asisten montir. 
3. Pemilik lahan memberi saya opsi, pertama saya dapat menyewa lahanya dengan iuran perbulan 4 juta. Kedua dengan sistem bagi hasil 
4. Saya membava di berbagai blog di internet bahwa di dunia usaha bengkel terjadi bajak membajak montir/mekanik.. bagaimana mengatasi agar montir/mekanik loyal kepada perusahan bengkel tersebut..
Terima kasih. Mohon pencerahannya pak ekotama


Jawaban:
Tuesday, 18 Jul 2017

Terimakasih atas atensinya Bapak Awaludin. Berikut ini jawaban atas pertanyaan Bapak:

Berapa prosentase bagi hasil bagi investor, pengelola, montir/mekanik, dan pemilik lahan?
Kerjasama dengan sistem bagi hasil pada dasarnya harus dimusyawarahkan bersama Pak. Jadi, bagi hasilnya itu merupakan kesepakatan bersama. Hal ini untuk menghindari sengketa dikemudian hari. Prinsipnya:

1.Pihak yang menanggung resiko terbesar kehilangan uang, itulah yang mendapatkan porsi bagi hasil terbanyak. Sebaliknya, pihak yang tidak memiliki resiko apapun kehilangan uangnya, mendapatkan porsi terkecil.

2.Investor mendapatkan laba bulanan / tahunan, sedangkan pengelola / mekanik / montir mendapatkan gaji bulanan. Jika pengelola / mekanik / montir mendapatkan bagi hasil saja, besar kemungkinan pengelola / mekanik / montir akan mengalami demotivasi karena penghasilan yang tidak pasti dan kemungkinan besar tidak dapat bekerja professional. Jika pengelola / mekanik / montir hendak diberikan bagi hasil, bukan bagi hasil atas laba bulanan, tetapi berupa bonus atas tercapainya laba tahunan. Itu akan memacu mereka untuk bekerja produktif sepanjang tahun demi bonus tersebut.

Bagaimana pembagian gaji montir / mekanik jika lebih dari satu, apa harus membuat divisi khusus montir yang berisi kepala montir, asisten montir?
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada beberapa hal yang harus dipahami:

1.Bapak harus membuat struktur organisasi terlebih dahulu.
2.Jika montir hanya satu orang, tidak perlu mengangkat kepala montir, karena itu pemborosan. Jika montir lebih dari satu, salah satunya dapat diangkat sebagai kepala montir untuk memudahkan bapak mengelola para montir. Kepala montir inilah yang bertanggung jawab terhadap kinerja para montir. Orang yang dapat diangkat sebagai kepala montir adalah orang yang paling ahli sebagai montir dan memiliki jiwa kepemimpinan serta pengetahuan tentang manajemen SDM. Jangan mengangkat kepala montir yang hanya ahli sebagai montir saja, karena itu nanti akan menyulitkan Bapak.
3.Pembagian gaji yang Bapak maksud disini adalah struktur gaji. Kepala montir mendapatkan gaji montir + tunjangan jabatan. Tunjangan jabatan sebagai kepala montir ini besarnya bisa 2x lipat gaji montir. Itulah sebabnya para pejabat selalu bergaji lebih besar daripada karyawan yang tidak memegang jabatan. Tunjangan jabatan berfungsi untuk menghargai tanggung jawab pekerjaan yang bersangkutan.
4.Untuk nominal gajinya, paling mudah Bapak mengikuti saja standar UMR / UMP. Repotnya, UMP / UMR ini selalu naik tiap tahun. Artinya pendapatan bengkel Bapak tiap tahun juga harus mengalami kenaikan. Jika tidak, pendapatan tersebut akan tergerus dengan biaya gaji karyawan dan memakan margin laba bengkel Bapak. Prinsipnya: gaji naik, produktifitas naik. Jika gaji naik produktifitas stagnan / turun, segera ganti dengan karyawan baru aja yang lebih produktif.

Berkaitan dengan dua opsi pemilik lahan:

1. Sewa lahan 4 juta sebulan. 

Keuntungannya: jika bengkel Bapak mendapatkan laba besar tiap bulan, harga sewa 4 juta sebulan itu sangat kecil nilainya. Bapak masih tetap bisa mengantongi laba besar, lebih besar daripada pendapatan pemilik lahan dari nilai sewa lahan yang hanya 4 juta sebulan itu. Bapak juga tidak direcokin oleh pemilik lahan, karena dengan sistem sewa pemilik lahan tidak bisa masuk ke manajemen bengkel. 

Kerugiannya: jika laba kotor (sebelum dikurangi biaya sewa) yang Bapak dapatkan sebulan mepet dengan angka 4 juta atau bahkan kurang dari 4 juta sebulan, pendapatan Bapak bisa lebih kecil daripada pemilik lahan. Itu nanti membuat Bapak merasa tidak nyaman dan akhirnya mengorbankan produktifitas Bapak, karena Bapak menganggap sudah bekerja keras malah hanya menguntungkan pemilik lahan. Jadi dengan sistem sewa ini, mau tidak mau Bapak harus bekerja lebih keras supaya pendapatan Bapak berada diatas pendapatan pemilik lahan.

2.Sistem bagi hasil.

Keuntungannya: harga sewa jadi naik turun mengikuti naik turunnya laba bengkel. Jika laba bengkel tinggi, harga sewa ikutan menjadi tinggi. Jika laba bengkel rendah, harga sewa ikutan rendah. Bapak tidak perlu menganggarkan dana cash 4 juta tiap bulan untuk disetorkan ke pemilik lahan tiap bulan. Tidak ada kewajiban yang menghimpit Bapak sebagai pengelola bengkel.

Kerugiannya: Yang pertama, sistem bagi hasil memungkinkan pemilik lahan masuk ke manajemen bengkel untuk memeriksa apakah benar laba yang didapatkan bengkel tersebut (sebelum dibagi sesuai prosentase bagi hasil masing-masing). Pemilik lahan yang tidak tahu seluk beluk bisnis bengkel bisa mengacaukan manajemen yang sudah Bapak bangun, apalagi jika pemilik lahan ini orangnya cerewet selalu minta bagi hasil yang tinggi karena ia menghargai lahannya juga tinggi. Energy Bapak bisa habis hanya untuk menangani pemilik lahan saja. Yang kedua, jika bengkel merugi (tidak mendapat laba), pemilik lahan tidak menerima bagi rugi. Alias, kerugian tersebut Bapak pikul sendiri. Jika berbulan-bulan rugi terus, pemilik lahan bisa mengusir Bapak karena dianggap tidak menguntungkan.

Lantas mana yang paling minim resiko? Berdasarkan pengalaman saya, sistem sewa lebih baik. Tapi sekali lagi, itu tergantung hitung-hitungan resiko Bapak sendiri. Kalau saya memang tidak mau ribet, sesedikit mungkin melibatkan orang yang tidak berkompeten dalam manajemen perusahaan.

Bagaimana cara membuat montir / mekanik loyal?
Prinsipnya: memanusiakan manusia. Jika montir / mekanik itu Bapak perlakukan dengan baik, Bapak jamin kesejahteraannya, Bapak naikkan pendapatannya, mereka akan loyal. Jangan memperlakukan karyawan seperti budak / pembantu. Tapi cara ini pun ada resikonya juga. Terlalu memanjakan karyawan bisa menyebabkan tidak menghormati kita, malah menyepelekan dan meremehkan kita bahkan berani menusuk kita dari belakang. Untuk mengantisipasi hal ini Bapak dapat membuat dan menerapkan SOP dan memberlakukannya secara tegas. Jangan lupa, berikan reward and punishment yang tegas. Jika dengan cara ini karyawan masih mau dibajak, berarti integritas karyawan tersebut diragukan. Bapak tetap harus bersyukur kepada Allah bahwa Bapak dijauhkan dari karyawan yang tidak memiliki integritas tersebut. Karyawan yang tidak memiliki integritas akan membunuh kita suatu ketika nanti. Untuk mengantisipasi hal ini, rekrutlah calon karyawan yang memiliki kepribadian baik.
Semoga membantu.

 




Thursday, 15 Sep 2016

MEMPERINGATI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA, LAUNCHING BUKU BARU
RAHASIA MUDAH MENDAPATKAN PEKERJAAN

 

SURYONO EKOTAMA sering berkata pedas soal cara bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya. Mulai dari libur (tidak produktif), sampai lomba-lomba konyol yang tidak mendidik (balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, dan sebagainya). Menurutnya, sebagai bangsa yang merdeka, seharusnya bangsa Indonesia mampu memperingati hari kemerdekaannya dengan cara yang lebih bermakna, misalnya lomba matematika, lomba fisika, lomba teknologi tepat guna, lomba disain baju, dan sebagainya yang menunjukkan kualitas manusia Indonesia yang sebenarnya.

Thursday, 21 Apr 2016

ULTAH KE-39, LAUNCHING BUKU


DATANG BAWA LAMARAN, PULANG BAWA SAHAM

 

Komitmen Suryono Ekotama untuk turut serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia betul-betul dibuktikan dengan karya nyata. Sepanjang tahun 2015, ia menerbitkan empat judul buku bertema peningkatan kualitas sumber daya manusia, yakni TRIK JITU JUAL DIRI (Gramedia Pustaka Utama), SUKSES MENEMBUS SELEKSI KARYAWAN (Gramedia Pustaka Utama), RAHASIA SUKSES SELEKSI WAWANCARA (Gramedia Pustaka Utama); CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET (Elex Media Komputindo).

Thursday, 05 Nov 2015

HARI SUMPAH PEMUDA, LAUNCHING BUKU

"CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET"

Hari Sumpah Pemuda diperingati sebagai kebangkitan pemuda pemudi Indonesia dan jiwa nasionalismenya. Pertanyaannya, apa yang sudah kita lakukan untuk memperingati hari sumpah pemuda ini untuk kemajuan bangsa Indonesia?

Banyak pemuda dan pemudi justru galau memperingati hari sumpah pemuda. Sudah sumpah pemudanya tidak hapal, tidak pula ada karya nyata yang disumbangkan untuk memajukan bangsa. Namun berbeda dengan Suryono Ekotama. Seperti biasanya, penulis yang masih mengklaim dirinya muda usia ini memperingati hari sumpah pemuda dengan karya nyata. Ia menerbitkan buku baru untuk memperbaiki kualitas bangsa Indonesia bersama Penerbit Elex Media Komputindo (Jakarta) berjudul CARA GAMPANG MENGUBAH KARYAWAN MENJADI ASET YANG PRODUKTIF DAN MENGUNTUNGKAN. Buku ini adalah buku ke-20 dari serial buku bisnis praktis yang diterbitkan oleh Suryono Ekotama.

Copyright 2009 - 2018 :: ekotama. All Rights Reserved.