.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Saturday, 18 Oct 2014
Menjaga rahasia perusahaan
Christie
Dear Pak Ekotama, Saya sudah mulai membuka resto, yang ingin saya konsultasikan adalah : Bagaimana cara menjaga rahasia resep masakan yang saya buat ? tetapi masakan dengan cita rasa yang sama dapat dibuat oleh pegawai (tanpa diketahui racikann
Konsultasi Ekotama
Sunday, 31 Aug 2014
ANTRI BBM...?!?
ANTRI BBM...?!? Aku geram melihat antrian kendaraan bermotor mencari "minum" di SPBU. Kepalaku panas karena terjebak kemacetan ditengah panas terik musim kemarau setiap melewati SPBU yang sekarang makin rapat saja jaraknya disetiap lajur jalan.
Pengunjung Saat ini: 3
Total Pengunjung: 498846

Monday, 25 Jan 2010
BERMAIN KACA PEMBESAR

BERMAIN KACA PEMBESAR


Masa kecil saya dulu saya rasakan cukup indah. Pada waktu masih duduk di sekolah dasar, saya bisa bermain dengan teman-teman sebaya, meski tidak sebebas teman lainnya. Oleh karena masa-masa bahagia itulah, banyak kenangan yang masih saya simpan sampai sekarang. Semuanya terekam dengan baik di otak saya.

Membaca kalimat diatas, Anda tentu heran? Kok seseorang yang sekarang sudah memperoleh gelar master masa-masa bahagianya adalah masa-masa bermain pada waktu kanak-kanaknya? Kok ia tidak menyebutkan bahwa ia bahagia bersama guru-gurunya yang telah memberinya kepandaian? Kalau Anda punya pikiran seperti itu, saya memberikan dua jempol saya untuk Anda. Anda benar, saya bahagia dan saya menikmati waktu bermain saya daripada ketika saya harus menghabiskan waktu belajar dengan guru-guru itu. Mengapa demikian?

Pada saat bermain, saya merasa senang, bahagia, dada ini rasanya legaaaa sekali. Saya begitu menghayati permainan itu, meski hanya permainan anak-anak. Sebaliknya, pada saat saya harus belajar dengan guru-guru yang seperti monster itu, saya sungguh sedih, tertekan, tidak bebas. Yang saya rasakan hanya ketakutan kalau saya salah. Sebab pada jaman itu, salah memberi jawaban berarti nilai merah. Nilai merah berarti mengecewakan orang tua. Mengecewakan orang tua itu haram hukumnya. Ini sangat membenani saya. Kalaupun saya sekarang berhasil memperoleh gelar magister, itu saya sengaja untuk balas jasa kepada orang tua.

Saya masih ingat betul ada satu permainan yang membuat saya sekarang masih merinding kalau mengingatnya, sekaligus juga bersyukur karena manfaatnya. Permainan itu diajarkan oleh seorang penjual mainan anak-anak yang saya yakin tidak mengenyam pendidikan tinggi. Tetapi permainan yang diajarkannya justru memberikan arti yang sangat penting bagi saya. Oleh karena inilah saya selalu mengingatnya dan mensyukurinya sampai sekarang.

Permainan itu sangat sederhana. Anda tahu kaca pembesar? Dulu jaman saya SD, mainan kaca pembesar itu saya beli dari penjual mainan anak-anak yang menggelar dagangannya di depan sekolah seharga Rp. 25,- (duapuluh lima rupiah) per biji. Awalnya saya tidak tertarik sama sekali. Tapi penjual mainan anak-anak itu menunjukkan sesuatu yang membuat saya takjub diusia saya pada saat itu. Ia mengambil kertas tidak terpakai. Dibawah terik sinar matahari, ia fokuskan sinar matahari itu menggunakan kaca pembesar. Dalam hitungan detik, kertas bekas itu terbakar, dimulai dari titik yang terkena fokus sinar matahari itu kemudian melebar dan akhirnya membakar semuanya!

Hebat!, pikir saya. Apalagi itu diajarkan oleh penjual mainan anak-anak, bukan oleh guru saya. Saking senangnya dengan mainan itu, saya selalu mengulang-ulangnya di rumah. Kaca pembesar mainan koleksi saya pun jumlahnya bertambah menjadi 3 yang saya beli dari penjual yang sama menggunakan seluruh uang tabungan saya yang waktu itu sejumlah Rp. 75,- (tujuhpuluh lima rupiah).

Tentu saya tidak pernah mengira jika permainan sederhana ini telah mendatangkan rejeki tersendiri bagi saya sekarang. Selaku konsultan, saya sering menggunakan cerita ini untuk memberikan inspirasi maupun memotivasi klien bisnis saya. Bahkan cerita ini mampu menarik perhatian para audiens dalam beberapa acara temu bisnis.

Fokus ala kaca pembesar mainan itu ternyata adalah HUKUM WAJIB untuk diterapkan dalam dunia bisnis, khususnya bagi Anda yang sedang mulai membangun usaha atau membesarkan usaha Anda. Otak kita itu memang didesain untuk bisa memikirkan banyak hal. Menurut Erbe Sentanu, terdapat riset yang membuktikan bahwa dalam sehari otak kita itu menghasilkan pikiran 60.000 kali!. Itulah yang membuat pikiran Anda ruwet dan sakit kepala. Sudah begitu, kita ini dikaruniai mata, telinga, lidah dan hidung. Indera-indera inilah yang paling banyak mempengaruhi apa yang kita pikirkan.


Banyak orang membeli kaca pembesar untuk melihat sesuatu yang lebih kecil. Aku membeli kaca pembesar untuk membantuku mengumpulkan energi sinar matahari yang dapat mengubah kertas menjadi abu.

(Ekotama, Agustus 2009)


Banyak sekali saya dapati pebisnis pemula yang baru membuka usaha tanpa pikir panjang langsung membuka usaha lain yang tidak saling berkaitan. Repotnya lagi, itu dilakukan dalam satu waktu yang singkat, karena merasa dirinya mampu dan menggunakan aji mumpung, selagi ada kesempatan. Apalagi kalau sedang moncer-moncernya itu kan uang dari bank datang sendiri. Ini makin menumpulkan otaknya saja sebenarnya.

Coba Anda pikirkan, bisakah Anda membangun 5 rumah dalam waktu yang sama? Bandingkan kualitasnya jika Anda membangun 1 rumah dulu dan kemudian baru membangun rumah lainnya satu per satu. Tentunya yang kualitasnya bagus adalah pilihan yang kedua bukan? Yang penting rumah pertama itu jadi dulu. Ketika Anda membuka usaha, besarkanlah usaha itu dulu. Kuatkan sendi-sendinya : produk, pemasaran, SDM & keuangan. Kalau sudah bisa jalan sendiri, Anda boleh bikin usaha lain, tetapi tentunya lebih baik jika sejalan. Konglomerat saja mendirikan usaha satu per satu, tidak sekaligus dalam waktu yang sama. Jadi usaha musti satu-satu dan saling berkaitan, supaya tidak pusing tujuh keliling mikirin usaha yang bermacam-macam dan masalahnya yang bermacam-macam pula.

Nah, inilah artinya fokus. Anda bisa menguasai pasar hanya dengan satu jenis usaha. Jangan serakah dulu! Anda tidak perlu kuatir kehilangan peluang dan kesempatan! Syaratnya, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh. Toh, kalau Anda sudah bisa menguasai pasar itu, wilayah kekuasaan Anda bisa melebar kemana-mana layaknya konglomerat. Itulah HUKUM WAJIB KACA PEMBESAR. Mula-mula yang terbakar hanya satu titik, kelihatan rapi pinggirnya, tapi lama kelamaan, titik itu makin melebar, makin melebar, dan akhirnya sebagian besar kertas hangus, meski pinggirnya tidak lagi rapi seperti semula.

 

Salam Cerdas,
Suryono Ekotama


CATATAN :
Artikel ini ditulis Suryono Ekotama pada tanggal 4 Februari 2008 & pernah dikirimkan ke Majalah Wirausaha & Keuangan. Artikel ini telah mengalami re-editing pada tanggal 31 Agustus 2009. Publikasi dalam website ini bertujuan untuk memberikan motivasi kepada siapapun dan dimanapun berada untuk memajukan bangsa Indonesia.

 

 

 


Thursday, 28 Aug 2014

Surat Terbuka Untuk Pak Jokowi (3)

MUSNAHKAN JAS, GANTI DENGAN BATIK

 
Pak Jokowi, saya mendukung Anda karena Anda memiliki program Revolusi Mental yang sejalan dengan konsep Revolusi Indonesia saya. Namun melihat penampilan Anda akhir-akhir ini, saya kecewa. Anda makin rajin mengenakan jas. Dimana Revolusi Mental yang dulu Anda canangkan?

Pak Jokowi, Indonesia itu negara yang beriklim tropis. Tidak cocok mengenakan jas yang didesain untuk iklim dingin atau sub tropis. Jas itu budaya eropa, budaya barat. Harganya mahal, tidak ekonomis dan merupakan pemborosan. Apakah meniru budaya barat dan pemborosan itu dinamakan Revolusi Mental? Apakah meniru budaya barat itu disebut kemandirian dalam bidang budaya? Apakah melakukan pemborosan itu disebut kemandirian dalam bidang ekonomi?

Saturday, 16 Aug 2014

SURAT TERBUKA UNTUK BUPATI & DRPD KAB. BANYUMAS

SELAMATKAN PG KALIBAGOR...!


 
Bapak Bupati Banyumas dan seluruh Pimpinan maupun Anggota DPRD Kab. Banyumas, saya sangat sedih sekali melihat kondisi Pabrik Gula (PG) Kalibagor yang terletak di daerah Sokaraja, ditepi jalan utama Banyumas - Purwokerto, Jawa Tengah. PG peninggalan Belanda ini sudah bertahun-tahun terlihat dibiarkan tanpa perawatan dan penjagaan. Kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal PG ini merupakan asset pemerintah dan dilindungi oleh undang-undang sebagai peninggalan sejarah (benda cagar budaya) yang harus dilestarikan.

Monday, 04 Aug 2014

KEMACETAN

Kemacetan itu sangat menyebalkan. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sama-sama gagal mengurai kemacetan. Artinya, mereka sama-sama gagal melakukan penghematan dan justru berperan serta melakukan pemborosan. Pemerintah pusat gagal mengendalikan laju produksi dan penjualan mobil atau motor, tentunya dengan alasan mereka sendiri. Pemerintah daerah gagal mengelola pajak kendaraan bermotor untuk memperbaiki dan menambah fasilitas jalan raya. Masih mau menyalahkan rakyat sebagai penyebab kemacetan? Maaf ya?!? Kami sebagai rakyat hidup di negara yang merdeka. Kami lahir bukan untuk disalahkan atas pengelolaan negara ini yang amburadul. Bukankah kami sudah membayar Anda (pemerintah) untuk mengelola negara ini dengan baik?

Mengapa kemacetan sama dengan pemborosan? Berikut ini alasannya:

Copyright 2009 - ekotama. All Rights Reserved.