.:: Selamat Datang di Website Suryono Ekotama ::.
Saturday, 18 Oct 2014
Menjaga rahasia perusahaan
Christie
Dear Pak Ekotama, Saya sudah mulai membuka resto, yang ingin saya konsultasikan adalah : Bagaimana cara menjaga rahasia resep masakan yang saya buat ? tetapi masakan dengan cita rasa yang sama dapat dibuat oleh pegawai (tanpa diketahui racikann
Konsultasi Ekotama
Sunday, 31 Aug 2014
ANTRI BBM...?!?
ANTRI BBM...?!? Aku geram melihat antrian kendaraan bermotor mencari "minum" di SPBU. Kepalaku panas karena terjebak kemacetan ditengah panas terik musim kemarau setiap melewati SPBU yang sekarang makin rapat saja jaraknya disetiap lajur jalan.
Pengunjung Saat ini: 6
Total Pengunjung: 500474

Sunday, 24 Jan 2010
HIKMAH PUASA

HIKMAH PUASA

 

Setiap bulan Ramadhan tiba, aku selalu mendapatkan ucapan permintaan maaf dan ucapan selamat dari banyak orang supaya bisa menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk. Ucapan-ucapan inipun kubalas dengan ungkapan sukacita. Meskipun didalam hatiku sebenarnya mulai muncul penyakit tahunan, sedih yang kurasakan setiap bulan puasa tiba. Kesedihanku ini mungkin hanya kurasakan sendiri, karena tiap kuungkapkan kepada orang lain maka orang lain itu menganggapku tidak waras. Itulah sebabnya kutulis dalam bagian ini supaya bisa meringankan beban hatiku. Tidak ada maksud apapun, selain untuk kemajuan bangsaku.


Produktifitas Menurun?

Aku pernah bekerja di berbagai perusahaan. Tiap bulan puasa tiba aku harus menandatangani pengumuman yang selalu bertentangan dengan isi hatiku. Pengumuman ini selalu berbunyi bahwa selama dalam bulan puasa, perusahaan mengurangi jam kerja untuk karyawannya. Alasannya selalu tidak jelas, kecuali alasan yang selalu kedengar tiap saat, supaya para karyawan itu bisa menyiapkan buka puasa. Apa yang perlu dipersiapkan untuk buka puasa sehingga kita harus mengorbankan produktifitas kita? Bukankah membatalkan puasa cukup dengan minum minuman yang manis dan sedikit makan hidangan pembuka?

Aku merasa kasihan dengan karyawan-karyawanku. Disatu sisi, produktifitas mereka menurun karena berkurangnya waktu kerja. Disisi yang lain, bertambahnya waktu luang diluar jam kerja ini justru dimanfaatkan untuk mengadakan kegiatan yang sifatnya konsumtif mengikuti alur lingkungannya. Hatiku terasa perih ketika memberikan mereka gaji yang tidak sebanding dengan produktifitas dan konsumtifnya mereka. Inikah yang dinamakan beribadah selama bulan puasa?


Barangsiapa telah membuang waktu produktifnya sia-sia, maka ia telah menyebarkan permata ke samudera untuk ditemukan pemburu harta karun kelas dunia yang akan membuatnya kaya raya. Sedangkan kita akan meratapinya dipinggir pantai sembari bersantai ditemani tupai.

(Hukum Waktu Produktif, Ekotama, 14 September 2009)


Aku sendiri tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pertanyaanku ini. Masing-masing orang menjawab dari sisi diri mereka sendiri (tentunya untuk mengamankan kepentingan mereka sendiri). Tidak pernah sekalipun yang memberikan jawaban kepadaku dengan mengedepankan masa depan umat. Padahal esensi dari puasa itu adalah melaksanakan ibadah sebanyak-banyaknya. Bukankah bekerja merupakan bagian dari ibadah? Ataukah khusus pada bulan puasa ini bekerja dapat diganti dengan tidur saja?

Aku tidak pernah tahu kapan pertanyaanku ini akan terjawab. Namun aku melihat sebuah penurunan produktifitas dalam bekerja. Apakah penurunan produktifitas ini berarti penurunan kualitas ibadan kita, aku tidak tahu. Yang jelas aku tahu, bekerja adalah bagian dari ibadah kita, karena hanya dengan bekerjalah kita dapat mencukupi kebutuhan hidup di dunia.


Kekerasan Dalam Selubung Agama

Seringkali pula kulihat tayangan televisi. Kekerasan justru dilakukan pada saat kita sedang menjalankan ibadah puasa. Bahkan konon katanya, pelaku kekerasan itu juga sedang berpuasa. Bagaimana hukumnya ya? Bukankah agama kita tidak pernah mengajarkan kekerasan? Wali Songo meletakkan dasar-dasar Islam di Indonesia dengan akulturasi budaya, bukan dengan jalan perang. Cara ini bahkan telah diakui dunia sebagai cara paling sukses mengubah wajah Indonesia.


Barangsiapa melakukan kekerasan yang bukan haknya, maka dunia akan menghukumnya : perjuangannya akan sia-sia.

(Hukum Perjuangan Yang Sia-sia, Ekotama, 14 September 2009)


Apakah kita dibenarkan melakukan kekerasan pada saat sedang berpuasa? Aku tidak pernah tahu jawabannya. Tiada seorangpun yang dapat memberi jawaban memuaskan, bahkan untuk kepentingan anak-anak bangsa yang sekarang sedang tumbuh sekalipun. Kadang dalam perenunganku aku bertanya, dimana seharusnya aku berdiri? Maka kubulatkan tekad untuk berdiri demi masa depan anak-anakku, demi masa depan bangsaku. Wali Songo telah memberikan pelajaran sejarah yang paling kubutuhkan untuk mengubah wajah Indonesia.


Bulan Puasa = Berbelanja Sebanyak-banyaknya?

Tiap bulan puasa tiba, ada fenomena yang selalu sama tiap tahun sejak aku kecil sampai dewasa. Pusat-pusat perbelanjaan selalu dipenuhi pengunjung. Bahkan orang jualan jajanan di pinggir jalan yang tidak terjamin higyenitasnya juga dikerumuni pembeli. Aku heran, kok bisa ya? Apakah bulan puasa = bulan berbelanja? Bahkan sekalipun harus mengorbankan kesehatan kita karena kita mengabaikan sisi higyenis?


Barangsiapa mampu mengubah nafsu konsumtif menjadi nafsu produktif, maka ia akan menjadi majikan terdidik dalam arti sebenarnya dan berpotensi untuk menguasai dunia.

(Hukum Konsumtif Terbalik, Ekotama, 14 September 2009)


Yang jelas, fenomena ini hanya kusaksikan tiap bulan puasa tiba. Di bulan-bulan yang lain perdagangan biasa-biasa saja. Menurut pemahamanku, tidak ada ajaran agama yang mengharuskan kita konsumtif, apalagi pada saat kita sedang menjalankan ibadah. Yang seringkali membuatku merasa miris itu jejeran sepedamotor yang memenuhi pusat-pusat perbelanjaan itu. Aku yakin sebagian besar motor itu belum lunas cicilannya. Orang yang berbelanja menggunakan sepedamotor bukanlah dari golongan yang berkecukupan. Lantas kenapa mereka menghambur-hamburkan uang kepada para pemilik toko atau supermarket yang jelas-jelas dari golongan kaya? Apakah dengan tradisi seperti ini kita bisa menjadi majikan terdidik? Ataukah kita akan terjajah secara ekonomi selamanya?

Sekarang aku menjadi sedikit paham, kenapa mayoritas umatku hidup kekurangan. Rupanya mereka terjebak pada tradisi berbelanja pada bulan puasa. Padahal esensi puasa itu kan seharusnya termasuk menahan nafsu untuk konsumtif? Mengapa tidak ada pemuka agama yang bisa menjelaskan hal ini kepada umatku? Apakah mereka terjebak pada hal yang sama? Jika demikian halnya, lengkaplah sudah kesedihanku. Ternyata sistem pendidikan kita yang bertingkat-tingkat dan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menempuhnya itu sama sekali tidak mampu memberikan dasar-dasar pemahaman yang cukup tentang nafsu manusia. Padahal tahukah engkau, bahwa dengan mengubah nafsu konsumtif menjadi nafsu produktif itu akan menjadikan kita majikan terdidik dalam arti yang sebenarnya. Lantas mengapa engkau masih suka mengurangi jam kerja dan memperbanyak belanja pada saat bulan puasa? Kurasa hidupku lebih bermakna ketika menyaksikan kamu mampu membuat tradisi hidup baru, bukan menjalani tradisi lama yang membuatmu miskin selamanya.


Pengemis Lebih Mulia Disaat Puasa?

Siapa sangka kalau himbauan kita untuk memperbanyak ibadah (termasuk didalamnya sedekah) pada saat bulan puasa justru dimanfaatkan sebagian umat kita untuk menjalani profesi paling hina di dunia? Cobalah lihat di perempatan-perempatan jalan itu. Ketika bulan puasa tiba, perempatan-perempatan jalan itu dipenuhi oleh penghuni-penghuni baru, yakni para pengemis dengan beragam usianya. Ada pengemis yang masih merah karena jalan saja belum bisa dan kemana-mana masih digendong ibunya, ada yang anak-anak, ada yang remaja, ada yang dewasa bahkan ada yang tua renta. Yang membuatku sedih adalah, mereka semua umatku. Mungkinkah umatku memang dilahirkan untuk mengemis? Justru pada saat mereka sedang menjalankan ibadah puasa?

Yang jelas kutahu, para pengusaha sukses atau para saudagar kaya itu tidak pernah memulai usahanya dengan mengemis. Mereka memulai usahanya dengan bekerja sekuat tenaga. Sebuah negara maju di dunia tidak pernah dibangun dengan mengemis kepada para negara tetangganya. Sebuah negara menjadi maju karena rakyatnya bekerja keras dan bekerja cerdas yang disertai dengan doa. Lantas kenapa umatku masih juga mengemis disaat puasa? Mungkinkah mengemis itu lebih mulia pada saat bulan puasa? Tiada seorangpun pemuka agama yang mampu memberikan jawaban memuaskan kepadaku atas pertanyaan ini. Yang kudapatkan dari mereka adalah jawaban bahwa pada saat puasa ini kita harus senantiasa meningkatkan ibadah termasuk didalamnya sedekah. Sedekah seperti apakah yang dapat membangun bangsa? Bukan sedekah justru memiskinkan bangsa?

Kalian tentu memaklumi kesedihanku. Bayangkan, bayi yang masih merah saja sudah diajari mengemis? Apakah suatu saat nanti jika ia dewasa dan menjadi wakil rakyat juga akan mengemis? Bagi kalian orang-orang kaya, aku tidak pernah meragukan kemampuan kalian untuk bersedekah. Tetapi berpikirlah tentang masa depan bangsa ini. Bukan semata berpikir untuk masa depanmu yang akan masuk surga jika sudah bersedekah kepada orang miskin, padahal sebenarnya kamu telah memiskinkan umatmu sendiri. Sudahkah kalian pikirkan hal ini?


Sedekah itu tidak sama dengan memiskinkan umat kita. Sebaik-baik sedekah adalah yang mampu meningkatkan harkat dan martabat bangsa, bukan untuk meloloskan diri masuk surga.

(Ekotama, 14 September 2009)


Dimana pula pemerintah saat dibutuhkan? Bukankah pengemis dan anak terlantar ini menjadi tanggung jawab pemerintah sebagaimana jaminan undang-undang dasar negara kita? Bukankah pada saat puasa ini para pejabat pemerintah lebih baik memikirkan bagaimana cara memakmurkan bangsa? Bukan malah berpikir bagaimana cara meng-goal-kan rencana mendapatkan fasilitas baru sebagai pejabat atau bertamasya bersama anak istrinya menggunakan fasilitas negara? Kalian sudah cukup mendapat kehormatan dengan memakai setelan jas dan mengendarai mobil mewah milik rakyat. Bagaimana kalian akan mendapatkan kehormatan dihadapan Allah jika umatmu sendiri masih mengemis? Bukankah sebaik-baik pemimpin adalah orang yang bisa mengubah tangan tengadah menjadi tangan diatas?


Sebaik-baik pemimpin adalah orang yang mampu mengubah tangan tengadah menjadi tangan diatas.

(Ekotama, 14 September 2009)

 

Malas Lebih Baik Daripada Bekerja?

Aku tidak pernah tahu apa alasan pemerintah memberlakukan cuti bersama tiap libur lebaran. Jika dijumlah total, libur lebaran resmi ditambah cuti bersama ini memakan waktu satu minggu-an. Selama satu minggu pula pelayanan publik yang diselenggarakan pemerintah seakan lumpuh. Kita warga negara diajari untuk tidak produktif, diajari bermalas-malasan dan diajari untuk terlena. Jika ada negara asing yang berniat untuk melakukan invasi ke Indonesia, maka pada saat libur lebaran dan cuti bersama itulah waktu yang paling tepat. Dijamin hanya dalam waktu tiga hari saja mereka dapat menguasai kita.

Kok begitu mudahnya? Sebab pada waktu-waktu itulah sebagian besar dari kita sedang terlena, baik itu tidur di rumah, bercanda dengan keluarga dan sanak saudara, berlibur ditempat-tempat wisata, berbelanja dan sebagainya. Bahkan sebagian besar kendaraan dinas pun dipakai untuk mudik atau liburan. Begitu pula sarana komunikasi yang disediakan negara untuk mempermudah koordinasi pada saat darurat. Pada saat seperti ini, maka kita dalam kondisi yang sangat lemah. Ibarat rumah, hanya ada satpam yang terjaga, tetapi penghuni rumah mabuk pesta berhari-hari. Satpam mungkin tidak dapat bertahan sendirian jika menghadapi serbuan dari luar rumah yang kekuatannya lebih besar.

Kemalasan sistemik seperti ini menyedihkan hatiku. Bagaimana mungkin kita bisa bangkit menjadi negara maju jika dengan sengaja kita melemahkan diri kita sendiri. Bahkan selama liburan berhari-hari itu kita menghambur-hamburkan kekayaan kita yang justru ditangkap oleh para kapitalis yang sudah kaya raya. Aku mengajarkan kalian menjadi majikan terdidik, bukan menjadi pemalas terdidik yang menghambur-hamburkan uangnya untuk orang kaya. Ingatlah negara kita yang masih perlu kita bangun untuk anak cucu kita. Allah telah menyediakan tempat istirahat yang kekal ketika ajal kita tiba. Maka sudah sepantasnya kita sekarang bekerja keras dan bekerja cerdas untuk membangun negara.


Pemimpin yang membuat rakyatnya malas bekerja sebenarnya telah maju ke medan pertempuran sendirian. Satu-satunya kemenangan yang didapatnya adalah julukan pemberani dari musuhnya, sedetik kemudian ia mati tanpa medali.

(Ekotama, 14 September 2009)

 

Akhirnya sampailah pada penutup bagian ini. Ketika kutulis bagian ini, aku tidak cuti. Aku tetap bekerja sebagaimana biasanya, bahkan lebih keras lagi karena aku ingin selagi kalian tertidur, aku sudah melangkah lebih jauh mendekati cita-citaku. Ketika kalian terbangun lagi dan malas bekerja karena terlalu lama liburan yang menghanyutkan, aku sudah menciptakan beberapa hak cipta yang akan kuwariskan kepada keturunanku kelak. Sedangkan kalian akan meratapi nasib yang kelelahan bertamasya dan kehabisan simpanan untuk membiayai sifat konsumtif kalian.

Hiduplah sebagaimana bangsa yang merdeka! Hiduplah dengan tradisi baru yang lebih bermakna untuk masa depan anak kita!


Yogyakarta, 14 September 2009


SURYONO EKOTAMA

 

 

 

 


Thursday, 28 Aug 2014

Surat Terbuka Untuk Pak Jokowi (3)

MUSNAHKAN JAS, GANTI DENGAN BATIK

 
Pak Jokowi, saya mendukung Anda karena Anda memiliki program Revolusi Mental yang sejalan dengan konsep Revolusi Indonesia saya. Namun melihat penampilan Anda akhir-akhir ini, saya kecewa. Anda makin rajin mengenakan jas. Dimana Revolusi Mental yang dulu Anda canangkan?

Pak Jokowi, Indonesia itu negara yang beriklim tropis. Tidak cocok mengenakan jas yang didesain untuk iklim dingin atau sub tropis. Jas itu budaya eropa, budaya barat. Harganya mahal, tidak ekonomis dan merupakan pemborosan. Apakah meniru budaya barat dan pemborosan itu dinamakan Revolusi Mental? Apakah meniru budaya barat itu disebut kemandirian dalam bidang budaya? Apakah melakukan pemborosan itu disebut kemandirian dalam bidang ekonomi?

Saturday, 16 Aug 2014

SURAT TERBUKA UNTUK BUPATI & DRPD KAB. BANYUMAS

SELAMATKAN PG KALIBAGOR...!


 
Bapak Bupati Banyumas dan seluruh Pimpinan maupun Anggota DPRD Kab. Banyumas, saya sangat sedih sekali melihat kondisi Pabrik Gula (PG) Kalibagor yang terletak di daerah Sokaraja, ditepi jalan utama Banyumas - Purwokerto, Jawa Tengah. PG peninggalan Belanda ini sudah bertahun-tahun terlihat dibiarkan tanpa perawatan dan penjagaan. Kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal PG ini merupakan asset pemerintah dan dilindungi oleh undang-undang sebagai peninggalan sejarah (benda cagar budaya) yang harus dilestarikan.

Monday, 04 Aug 2014

KEMACETAN

Kemacetan itu sangat menyebalkan. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sama-sama gagal mengurai kemacetan. Artinya, mereka sama-sama gagal melakukan penghematan dan justru berperan serta melakukan pemborosan. Pemerintah pusat gagal mengendalikan laju produksi dan penjualan mobil atau motor, tentunya dengan alasan mereka sendiri. Pemerintah daerah gagal mengelola pajak kendaraan bermotor untuk memperbaiki dan menambah fasilitas jalan raya. Masih mau menyalahkan rakyat sebagai penyebab kemacetan? Maaf ya?!? Kami sebagai rakyat hidup di negara yang merdeka. Kami lahir bukan untuk disalahkan atas pengelolaan negara ini yang amburadul. Bukankah kami sudah membayar Anda (pemerintah) untuk mengelola negara ini dengan baik?

Mengapa kemacetan sama dengan pemborosan? Berikut ini alasannya:

Copyright 2009 - ekotama. All Rights Reserved.